S.Y.S talk

Share Your Skills, Share Your Stories

“Benjamin Button, Sebuah Kasus yang Membuat Penasaran”

| 2 Comments

"The Curious Case of Benjamin Button"

"The Curious Case of Benjamin Button"

Kalau Anda berencana untuk menonton film ini, perhatikan jam tayangnya yang hampir tiga jam. Tiga jam yang akan “dicuri” dari hidup Anda tetapi Anda tidak akan menyesal, karena kisah yang diangkat begitu menarik akan kehidupan beberapa orang, dan juga difokuskan pada kehidupan seseorang yang penampilannya berjalan terbalik dengan umurnya.

Setelah menonton, saya yakin sebagian dari Anda akan lebih menghargai dan memperjuangkan waktu dan hidup Anda lebih dari biasanya.

Film ini dimulai di sebuah ruangan rumah sakit. Ada seorang wanita tua *sekarat* terbaring di tempat tidur. Beliau ditemani oleh anak perempuannya yang duduk di sisinya. Beliau tergerak untuk membagi cerita tentang seorang ayah buta yang mahir membuat jam. Pria buta ini diberikan wewenang oleh Pemerintah Kota untuk membuat jam untuk dipasang di stasiun kereta api. Akan tetapi, setelah beberapa kejadian yang dialami oleh pria buta ini dan yang dialami oleh penduduk kota ini, Sang pembuat jam ini memilih untuk membuat sebuah jam besar yang berputar mundur (melawan arah jarum jam pada lazimnya). Ada baiknya Anda memperhatikan bagian prolog ini dengan seksama, karena Anda akan melihat jam ini kembali di dekat penghujung film ini.

Lalu wanita tua ini meminta anaknya untuk membacakan sebuah diary kepadanya. Tanpa diketahui oleh anaknya, ternyata diary merupakan sebuah buku yang menceritakan jalan hidup seseorang yang sangat berarti dan berharga buatnya.

Oke, saya tidak mau membeberkan terlalu banyak cerita film ini bagi Anda yang belum menonton. Bila Anda tidak keberatan tahu lebih banyak sebelum menonton film ini, ya silahkan baca lanjutan ceritanya di bawah ini.

Sebagian resensi film / ulasan / “review” atau beberapa teman Anda mungkin mengatakan bahwa bagian-bagian awal dari film ini agak lamban dan membosankan, tapi tidak juga, justru asal usul di awal film ini sangat menarik untuk disimak. Anda dapat melihat sisi asli dari orang-orang. Sebagian takut akan apa yang mereka tidak ketahui. Dan ada sebagian lagi yang melihat hal aneh yang mereka tidak ketahui ini sebagai mukjizat dan berkah dari Tuhan.

Ada seorang anak yang dilahirkan prematur, begitu lahir penampilannya sudah mirip kakek-kakek. Sayang sekali, Ibunya meninggal beberapa saat sesudah melahirkan. Ayahnya sedih dan panik ketika melihat bayinya memiliki muka yang menakutkan. Istrinya padahal sebelum meninggal sudah membuat suaminya ini berjanji akan menjaga anaknya dengan baik. Tetapi ayah ini ternyata “membuang” bayi itu di depan tangga sebuah panti jompo.

YouTube Preview Image

Dimulailah kisah mengenai sang bayi untuk dua jam ke depan. Bayi ini, ternyata seperti jam stasiun yang berputar mundur pada cerita prolog, umurnya berjalan terbalik, semakin tua, penampilannya menjadi semakin muda.

Bagi saya pribadi, salah satu pesan film ini adalah: “Anda tidak dapat menghindari beberapa hal yang sudah pasti akan terjadi.”

Satu lagi pesan menarik: “Anda harus menghargai dan menerima dengan penuh semua yang Anda miliki pada kehidupan Anda, karena semuanya adalah berkah dari Tuhan. Mukjizat… jadi, bersyukurlah dan jalanilah hidup Anda dengan sepenuh hati dan harapan.” :)

Beberapa kata-kata mutiara:

“Some people are born to sit by a river, some get struck by lightning, some have an ear for music, some are artists, some swim, some know buttons, some know Shakespeare, some are mothers, and some people dance.”
“Sebagian orang terlahir untuk duduk di pinggir kali, sebagian terkena sambaran petir, sebagian memiliki bakat menghargai musik, sebagian adalah artis, sebagian berenang, sebagian mengerti betul akan kancing, sebagian mengenal Shakespeare, sebagian menjadi bunda, dan sebagian lagi berdansa.”

Ketika menonton, saya jadi merasa sepanjang hidupnya ini, Button “belajar” mengenai arti kehidupan… saya jadi ingat kata mutiara berikut ini:
“Learn as if you are a beginner. Love as if for the first time. Give as if you already have what you need.” – John Gray, Ph.D.
“Belajarlah sebagaimana kau sebagai seorang pemula. Mencintai sebagaimana kali pertama kau mencintai. Berilah sebagaimana kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan.”

[update]
Kemarin saya mengikuti acara reuni SMA di Bandung. Menjadi semakin nyata saja arti kata mutiara di atas: beberapa orang memang dilahirkan untuk menjadi seperti apa adanya mereka sekarang, ada yang sudah menjadi sukses, sudah mendapatkan apa yang mereka dambakan dan perjuangkan, tetapi ada juga yang masih berjuang hingga sekarang [salah satunya ya saya ini]. Ada yang penampilannya masih sama seperti dahulu ketika masih sekolah, ada yang semakin tua dan dewasa, ada yang semakin cantik, ada yang menjadi lebih gemuk, ada yang lebih langsung, ada yang menjadi sangat bahagia sekarang, dan ada yang tetap seperti dulu menerima apa adanya.

Guru-guru pun masih sama seperti yang ada pada ingatan. Sebagian sudah beranjak tua dan terlihat dari penampilannya, sebagian masih “muda” jiwanya. Ya terkadang saya maklum sih kalau di antara mereka tidak ingat saya. :) Karena memang saya waktu sekolah bukan merupakan siswa yang mencolok, hanya biasa-biasa saja. Tetapi itu tidak membuat saya tidak menghargai jasa-jasa yang telah mereka berikan. Tanpa jasa mereka, saya mungkin tidak ada di sini sekarang ini. Terima kasih semuanya. :)

Author: Dedy Sofyan

A self-taught web designer with years of experience. Admin of WordPress Indonesia & BuddyPress Indonesia. Twitter: @sofyand Blog: www.sys-talk.com

2 Comments

  1. Just watch it, this movie have a point of view, the point is that some people are meant to be, it’s only a point of view which is some how match & make sense regardless of point of view I like the last quote :
    “Some people are born to sit by a river, some get struck by lightning, some have an ear for music, some are artists, some swim, some know buttons, some know Shakespeare, some are mothers, and some people dance”

    and here what i see around me:
    some are love to work, some are know how to enjoy their life, some are good at motivating, and some people write.

  2. Yeah, it’s a good movie. Too bad it didn’t win as many Oscars as Slumdog Millionaire. Haven’t watch it yet.

    Button is indeed a curious case, makes you wonder how would your life be if it turns backwards? ;)

Tinggalkan Balasan