Di saat kebanyakan warga Jepang pasrah dan hanya bisa berpikir – Shou ga nai, yang artinya, “Apalah yang bisa kita perbuat?” – Hideaki Akaiwa benar-benar seorang pahlawan mirip dengan tokoh utama film-film action.
Tidak mau hanya tinggal diam sampai ada orang-orang lain datang untuk menolong menyelamatkan sang istri tercinta, yang sudah dinikahinya selama 20 tahun, dari kepungan air yang menerjang kota tempat tinggalnya, Ishinomaki di wilayah Timur Laut Jepang, pria berusia 43 tahun ini bergegas mengambil alat selam.
Di negara yang melek mode ini, Bung Akaiwa mengenakan celana tentara ala Rambo, baju training biru, sepatu sneaker yang penuh lumpur, celana yang dililiti lakban oranye lengkap dengan tiga tas pinggang, serta sebuah tas bum L.L. Bean bum yang dihiasi karakter anime seorang doktor yang hobi menyelamatkan orang lain.
Bung Akaiwa bercerita kalau dia waktu itu sedang bekerja di lokasi lain beberapa kilometer jaraknya ketika tsunami menerjang kota pantai tempat tinggalnya yang berpenduduk sekitar 162.000 jiwa. Dia bergegas kembali dan sesampainya di sana, lingkungan tempat tinggalnya sudah ditutupi air setinggi 3 meter. Dia lalu terjun ke dalam air, berjuang mencari jalan melewati puing-puing dan rongsokan barang berbahaya di dalam air agar dapat sampai ke rumahnya, dan ternyata usahanya tidak sia-sia dan dia berhasil membawa kembali istrinya ke tempat yang aman.
“Airnya terasa sangat dingin, gelap dan sangat menyeramhkan,” ingatnya. “Aku harus berenang sekitar 180 meter untuk mencapai istriku, yang ternyata sangat sulit dengan banyaknya rongsokan yang mengapung di sekitar.”
Beberapa hari kemudian ketika ibunya masih juga belum ditemukan, Bung Akaiwa menjadi frustasi ketika ternyata tingginya air hanya berkurang sedikit saja sekitar 30cm. Dia terus menerus mencari ibunya ke Balai Kota dan beberapa pusat pengungsian lainnya..
Pada akhirnya, hari Selasa, dia mengulang aksi heroiknya dengan terjun ke dalam air yang tinggi menuju lingkungan di mana ibunya terakhir kali terlihat. Dia menemukan ibunya di lantai dua sebuah rumah yang terendam banjir di mana ibunya sudah menunggu untuk ditolong selama empat hari.
…
Baca cerita selengkapnya di sini:
- The Australian: Hero’s solo swim to save beloved
- TIME Healthland: Altruism in Action: Japanese Surfer Hero Rescues His Wife, Mother and Others
- Los Angeles Times: For one quake survivor, self-help in the face of seeming helplessness
Catatan tambahan (pribadi):
Sebuah cerita yang amat menakjubkan bukan? Mungkin terlalu menakjubkan sampai-sampai beberapa orang di internet mulai mempertanyakan keabsahan berita ini. Sebabnya ternyata artikel mengenai Akaiwa hanya beredar di media berbahasa Inggris saja, dan ternyata tidak diberitakan di media Jepang sendiri. Aneh ya? Ya mungkin bisa dibaca juga di sini:
- http://badassoftheweek.com/akaiwa.html
- http://www.grist.org/article/2011-03-24-on-japanese-scuba-feats-and-the-heroism-of-small-things
Artikel kedua cukup menarik, saya sangat setuju, regulasi gedung-gedung di Jepang betul-betul menyelamatkan banyak jiwa saat gempa 9.1 skala Richter ini terjadi, semua ini berkat para pejabat Jepang yang gigih memperjuangkan peraturan ini hingga disetujui dan diimplementasikan. Bayangkan! 9.1 SR! Gedung-gedung tinggi di Jepang hanya menari mengikuti gerakan bumi… Kalau gempa itu terjadi di sini, tidak terbayangkan dampak kehancuran yang ditimbulkannya seperti apa. Kita sebaiknya banyak belajar dari Jepang. Jangan sampai terulang lagi kejadian seperti di Aceh dan Padang kemarin. Gedung-gedung banyak yang luluh lantah akibat gempa.
Turut berbelasungkawa untuk para korban bencana alam di Jepang.

